.
HIV/AIDS, Kesehatan Publik, Remaja

Perlunya Pendidikan Seks di Sekolah

Sekolah mempunyai keterbatasan waktu dan pengawasan. Maka bimbingan keluarga dan kontrol dari masyarakat, dimana anak lebih banyak menghabiskan waktunya, mempunyai peranan lebih besar bagi terciptanya generasi yang berilmu sekaligus bermoral

BERBICARA tentang pendidikan seks tidak bisa dilepaskan pada sikap masyarakat untuk menerima ataupun menolak disosialisasikannya seks pada khalayak umum. Penolakan masyarakat tersebut didasarkan pada sikap masyarakat yang menganggap bahwa seks adalah suatu hal yang tabu dan tidak boleh dibicarakan secara terbuka, apalagi dengan anak-anak ataupun remaja. Anggapan tersebut tidak salah, karena pada saat itu masyarakat memahami seks dengan makna sempit yaitu hanya sebatas hubungan badan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Padahal kegiatan ini hanya bagian dari pendidikan seks.

Alasan tersebut diatas menjadikan para orang tua, guru untuk tidak membicarakan mengenai seksualitas pada anak-anaknya. Padahal menurut Sarlito Wirawan Sarwono (2001), sikap mentabukan seks pada remaja hanya mengurangi kemungkinan untuk membicarakannya secara terbuka tetapi tidak menghambat hubungan seks itu sendiri.

Masa remaja masa yang labil dan dipandang kritis, sebab remaja dihadapkan dengan persoalan-persoalan ataupun tuntutan sosial akibat dari pertumbuhan dan perkembangan yang sedang dialaminya.

Salah satunya adalah persoalan seks. Pada masa remaja (pubertas) organ-organ seks mulai menunjukkan kematangan sehingga muncul dorongan atau hasrat untuk memenuhinya. Menurut Hurlock, sebagaimana dikutip oleh Andi Mappiare (1999) :gejala ini merupakan fase negatif yang dialami oleh remaja yang ditandai dengan munculnya tanda-tanda seksual, seperti menarche (haid pertama kali) pada remaja perempuan dan mimpi basah bagi remaja laki-laki. Akibat dari kesan mimpi basah yang indah tersebut maka timbulah minat terhadap lawan jenisnya. Selain itu juga ditandai dengan perubahan-perubahan lebih baik yang bersifat fisik maupun psikis yang tentunya akan berimplikasi terhadap pola tingkah laku para remaja.

Dari fenomena diatas, menurut hemat penulis perlu diterapkan pendidikan seks di sekolah yang dikemas dalam kurikulum sekolah. Namun perdebatan tentang pendidikan seks di sekolah seakan tak habis dibicarakan. Kelompok yang pro menganggap pendidikan seks itu perlu untuk mencegah prilaku seks menyimpang. Kalangan yang menentang pendidikan seks beralasan justru pendidikan seks akan membuat anak yang tidak tahu tentang seks akan menyalah gunakan apa yang diketahuinya.

Masalah pergaulan bebas yang menjerumus ke arah seks perlu di antisipasi dunia pendidikan. Dengan perkembangan dunia informasi yang semakin pesat, semua sepakat bahwa pendidikan seks perlu di sekolah.
Pendidikan seks menurut tokoh pendidikan Nasional Arif Rahman Hakim adalah perlakuan proses sadar dan sistematis di sekolah, keluarga dan masyarakat untuk menyampaikan proses perkelaminan menurut agama dan yang sudah ditetapkan oleh masyarakat.

Dengan demkian pendidikan ini bukanlah pendidikan tentang how to do (bagaimana melakukan hubungan seks), atau tentang hubungan seks aman, tidak hamil dan lain sebagainya, tetapi intinya pendidikan seks di berikan sebagai upaya preventif dalam kerangka moralitas agama.

Ia tidak boleh bertentangan dengan ajaran agama, jika tidak maka apa yang dikhawatirkan kelompok anti pendidikan seks akan terjadi. Ketika seks terlepas dari kerangka moral agama, maka kebobrokan moral kaum terpelajar justru akan semakin mewabah, sebagaimana yang di tenggarai Iip Wijayanto dalam penelitiannya di kota Jogjakarta beberapa tahun lalu yang menyebutkan lebih dari 90 persen mahasiswi tidak perawan lagi.

Dalam perspektif pendidikan agama (dalam hal ini; Islam), pendidikan seks dibahas dalam materi pelajaran fikih yang meliputi tentang reproduksi dan tanggung jawab agama bagi seseorang yang telah mengalami kematangan reproduksi seksualnya (baligh). Dengan mengacu fikih, maka penulis mengusulkan agar ruang lingkup kurikulum pendidikan seks antara lain: Penciptaan manusia oleh Allah (proses kejadian manusia mulai dari pembuahan), perkembangan laki- laki dan perempuan (secara fisik dan psikis), perilaku kekelaminan, dan kesehatan seksual. Rancangan ini juga penilaian kebutuhan (need assessment, evaluasi, implementasi, sosialisasi dan membuat disain kurikulum dan pengembangannya).

Di samping kurikulum yang juga harus dipersiapkan adalah guru pengajarnya. Jangan sampai pendidikan seks yang bertujuan sebagai tindakan preventif malah menjadi ajang pembahasan seks secara vulgar dan di luar konteks kependidikan. Sedangkan informasi yang dapat diberikan mencakup: tentang masalah reproduksi, proses kelahiran, KB, perilaku menyimpang, kejahatan seks, perlindungan hukum.

Ada dua kemungkinan kurikulum pendidikan seks: berdiri sendiri atau terkait dengan mata pelajaran lain. Pendidikan seks di sekolah diintegrasikan dalam mata pelajaran: agama, olahraga, biologi (misalnya anatomi), sosiologi, antropologi, dan bimbingan karier.

Untuk mendukung kurikulum pendidikan seks di sekolah maka kegiatan di luar sekolah juga perlu mendukungnya. Pendidikan seks dalam kegiatan OSIS dapat dicakup dalam program kerohanian yang dikemas dalam kegiatan Keputrian, Keputraan, Pesantren Kilat, dan sebagainya. Juga kegiatan POMG dalam bentuk seminar dan diskusi yang mengundang orangtua murid dan para ahli masalah seks, bila perlu seksolog dan agamawan.

Namun demikian tanggung jawab keberhasilan pendidikan seks bukanlah semata-mata di tentukan oleh kurikulum sekolah, tetapi juga peran keluarga, masyarakat dan pemerintah (tri pusat pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara). Sekolah mempunyai keterbatasan waktu dan pengawasan. Maka bimbingan keluarga dan kontrol dari masyarakat, dimana anak lebih banyak menghabiskan waktunya, mempunyai peranan lebih besar bagi terciptanya generasi yang berilmu sekaligus bermoral. ****

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

%d blogger menyukai ini: