.
Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Publik, Lingkungan Hidup

Mahalnya Air bagi Si Miskin

Masyarakat Indonesia secara makro dihadapkan pada permasalahan umum yang muncul hampir diseluruh wilayah. Masalah kemiskinan, pendidikan yang mahal dan masalah kesehatan terutama yang disebabkan oleh sanitasi dan air bersih. Akses air bersih merupakan persoalan kompleks yang selalu membayangi si miskin  hingga saat ini. Kondisi kesulitan terhadap akses air bersih biasanya dihadapi oleh para masyarakat miskin yang berada di wilayah padat dan kumuh di perkotan. Kebanyakan dari mereka bekerja pada sektor informal, karena pekerjaan yang dipilih adalah pekerjaan yang tidak terlalu membutuhkan ketrampilan khusus yang biasanya tidak dipunyai oleh mereka. Anggapan kota sebagai alternatif yang paling memungkinkan untuk mencari kehidupan yang lebih baik memperbesar jalur  migrasi dari desa ke kota. Sehingga kota semakin banyak penghuninya. Lambat laun kota semakin padat dan kumuh.

Dengan berbekal pendidikan yang tidak tinggi, ketrampilan yang tidak mencukupi serta kurangnya lapangan pekerjaan di perkotaan, maka semakin lama kelompok ini semakin terpinggirkan dari kehidupan kota yang layak. Yang penting bagi kelompok ini adalah bagaimana caranya agar hari ini mendapatkan uang yang hanya cukup untuk menutupi kebutuhan dasar: makan dan minum. Kondisi lingkungan perumahan, kebersihan, kesehatan bukanlah sesuatu yang mereka permasalahkan. Mereka adalah bagian dari kelompok yang membidani kantong-kantong kekumuhan diperkotaan dan hal ini diperparah oleh perencanaan pembangunan kota yang tidak komprehensif dan merata. Sarana dan prasarana publik yang tersedia di daerah miskin perkotaan, biasanya jumlahnya sangat sedikit sekali, kualitasnya tidak memadai dan perawatannya sangat kurang, malah seringkali banyak yang tidak ada atau tidak berfungsi sama sekali.  Semisal prasarana yang sangat dibutuhkan tetapi jumlahnya sangat kurang adalah air bersih. Penduduk miskin perkotaan biasanya tidak dilayani oleh sistem air bersih perkotaan.

Si Miskin Membeli Air lebih Mahal daripada Si Kaya

Di sejumlah daerah, rakyat miskin biasanya harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli air dari penjaja, bahkan bisa puluhan kali lipat dari biaya yang dikeluarkan orang kaya—yang notabene menjadi pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sehingga rakyat miskin sering kali terlupakan. Hal ini mengakibatkan banyak rakyat miskin yang tidak  terjangkau oleh layanan publik yang dikelola pemerintah setempat. Namun sebaliknya, bagi orang kaya yang tinggal di daerah elit selalu mendapat prioritas akan layanan air ledeng dari PDAM. sementara itu, bagi mereka yang sangat miskin sehingga tidak mampu membeli air bersih, banyak yang harus mati  pada usia dini hanya karena terpaksa mengkonsumsi air yang tidak bersih.

Idealnya setiap keluarga rata-rata memerlukan air bersih sedikitnya 10 meter kubik per bulan. Namun, keluarga miskin yang tidak punya akses air bersih tidak dapat memenuhi kebutuhan minimal tersebut (Instruksi Menteri Dalam Negeri No.8.1998).  Survai yang dilakukan dalam kurun waktu lima tahun terakhir mengungkapkan bahwa keluarga yang beranggotakan 5 orang dan tidak memiliki akses sambungan air hanya mengkonsumsi 2 meter kubik air bersih per tumah tangga per bulannya. Bahkan banyak keluarga miskin di Indonesia harus membayar paling tidak 10% sampai 20% dari pendapatannya untuk membeli air bersih dari penjual air keliling. Hal ini terutama dialami oleh keluarga yang berpenghasilan di bawah Upah Minimun regional (UMR). (Laporan Bank Dunia: Enabling Water Utilities to Serve the Urban Poor).

Bagi masyarakat miskin perkotaan yang tidak terjangkau oleh jaringan distribusi, kebutuhan akan air bersih dipenuhi dengan membeli melalui penjaja air dengan gerobak dorong. Semisal  di suatu kawasan Bandung, masyarakat membeli air dari penjaja dengan harga Rp 500,- untuk 1 jerigen 20 liter. Tiap 2 hari sekali, mereka membeli 2 jerigen air untuk kebutuhan makan dan minum. Kebutuhan untuk mandi, cuci dan kakus biasanya mempergunakan sumber air lain yang tidak jelas kualitasnya. Dalam satu bulan biaya yang dikeluarkan = 30 hr/ 2hr X Rp 500/jerigen X 2 jerigen = Rp 15.000,- untuk volume = 30 hr/ 2 hr X 2 jerigen X 20 liter/ jerigen = 600 liter. Dikonversikan dalam 1 m3 menjadi = 1000 liter/ 600 liter X Rp 15.000,- = Rp 25.000,-, sedangkan tarif air PDAM—katakanlah yang berlaku saat ini adalah seharga Rp 1.000/ m3. Sungguh fenomena yang menyakitkan, dimana si miskin harus membayar harga air yang lebih mahal dari masyarakat yang lebih mampu (yang berlangganan PDAM). Ternyata masyarakat miskin harus membayar lebih dari dua puluh  kali lipat dari harga tarif yang berlaku. Suatu gambaran betapa tidak adilnya bagi masyarakat kecil yang harus menanggung biaya yang lebih besar. Dan tanggungan itu ditambah lagi dengan biaya untuk kesehatannya karena mengkonsumsi air yang tidak jelas kwalitasnya. Berdasarkan catatan WHO (2006)  hampir 2.6 milyar orang di dunia tidak memiliki akses terhadap sanitasi dasar dan 1.1 milyar orang kekurangan air bersih serta lebih dari 1 milyar orang setiap tahun terjangkit penyakit akibat mengkonsumsi air yang sudah terkontaminasi dan lebih dari tiga juta diantaranya meninggal setiap tahunnya, termasuk sekitar dua juta anak-anak. Hal ini mengakibatkan orang miskin menjadi semakin tidak berdaya dan terperangkap dalam kemiskinannya.

Air Bersih Tanggungjawab Pemerintah

Menilik PP Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Air Minum, Pemerintah pusat dan pemerintah daerah mempunyai tanggung jawab terhadap pemenuhan air minum bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari. Sekitar 40% rumah tangga di daerah perkotaan mendapatkan suplai air dari PDAM. Namun sisanya mendapatkan air dari sumber lain seperti sumur ataupun dari penjual air keliling. Adapun untuk meningkatkan akses orang miskin terhadap air bersih, dibutuhkan dana sebesar Rp 23 – 66 triliun hingga 2015. Ironisnya, anggaran publik untuk sektor air bersih dari APBN hanya sebesar Rp 400 – 600 milyar. Jumlah ini sangat jauh dari kebutuhan sebenarnya sebesar Rp 2,5 – 6 triliun per tahun (http://satudunia.oneworld.net, Perlu Komitmen Pemerintah untuk Atasi Krisis Air, Andy A. Krisnandy ) Pemerintah masih dinilai pasif dalam menghadapi masalah air bersih, terlihat dengan keengganan pemerintah untuk melakukan investasi secara langsung untuk membangun infrastruktur penyediaan dan pengolahan air bersih. Sebaliknya pemerintah malah lebih menitikberatkan pada mekanisme kerjasama pemerintah dan swasta (public private partnership) untuk memenuhi pembiayaan air bersih dengan alasan keterbatasan anggaran pemerintah. Padahal menurut Laporan World Bank, Indonesia Public Expenditure Review 2007 mengindikasikan bahwa  Pemerintah saat ini sebenarnya memiliki ruang fiskal (fiscal space) yang cukup besar untuk melakukan mengalokasikan dana untuk investasi membangun infrastruktur dasar (air bersih, listrik, jalan dan telekomunikasi) sebesar 2% dari GDP (Rp. 50-60 triliun) setiap tahunnya. Sumber pembiayaan lain adalah dari pajak, yang dapat meningkatkan pendapatan pemerintah secara signifikan yang dapat dialokasikan untuk penyediaan infrastruktur dasar yang mendukung program pengurangan kemiskinan. Masalah ini perlu adanya peran aktif negara—dalam hal ini pemerintah,  untuk  mengatur, mengelola, mengawasi, dan memiliki sumber-sumber dan infrastruktur penyediaan air bersih. Seperti yang pernah dibahas diatas, air bersih adalah kebutuhan yang mendasar, karenanya dikategorikan sebagai hak asasi manusia. Sehingga pemerintah bisa disebut gagal apabila tidak bisa memenuhi kebutuhan air bersih bagi rakyatnya—yang  berarti pula kegagalan pemerintah dalam melindungi hak asasi manusia seutuhnya. Oleh sebab itulah rakyat berhak menuntut agar negara atau pemerintah menjamin tersedia air bersih yang murah dan berkelanjutan bagi kehidupannya. * Koordinator perencanaan media kampanye di Kelompok Kerja Komunikasi Air (K3A) dan Ketua Yayasan Kriyamedia Komunika

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

%d blogger menyukai ini: